oleh

Deprov Malut Soroti Banjir di Sula dan Taliabu

banner

SOFIFI, PNc–Dewan Provinsi (Deprov) Maluku Utara menyoroti ratusan  rumah di Desa Waitina, Kecamatan Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) terendam banjir disertai lumpur.

Ketua Komisi III Deprov Malut, Muhaimin Syarif kepada wartwan via telpon, Senin (6/7) mengatakan, banjir yang terjadi di Desa Waitina Kabupaten Kepulauan Sula harus diperhatikan Pemerintah Provinsi, agar dilakukan pembangunan infrastruktur jembatan  penghubung di Desa Waitina Kabupaten Sula dan Desa Talo, Kilong, Kota Bobong Kabulaten Pulau Taliabu. Karena di tempat tersebut ada empat jembatan belum direhab sampai saat ini.

banner 500x500 banner 500x500 banner 500x500

Namun, kerusakan rumah di Desan yang mengalami musibah alam ini sudah dilakukan pendataan dan telah dimasukan ke BPBD Provinsi Maluku Utara.

Selain itu, kata dia, besok (hari ini,red) ada kunjungan kerja BNPB Pusat dan tim Kementrian Kesehatan akan turun ke lokas banjir. Sehingga dia berharap dengan adanya kunjungan BNPB pusat paling tidak apa yang menimpa masyarakat di desa tersebut dapat ditangani dengan pengalokasian dana Taktis pusat agar masyarakat terbantukan.

“Kalau mau mengharapkan dana daerah ya tentu kita punya dana daerah terbatas tentu kita hanya berharap dana taktis dari BNPB  dan harus segra mungkin dibantu dan diqtasi akses jalan di Taliabu yang terputus dan masyarakat yang rumahnya tergenang banjir,” harapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Malut melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi, Fikri Taslim mengatakan,  untuk banjir di kepulauan Sula  tim Reaksi Cepat  (TRC) BPBD Malut sudah menuju ke TKP  dengan Kapal. Namun, untuk bantuan masih menunggu surat penetapan tanggap darurat dan administrasi lainnya karena Provinsi menunggu identifikasi kebutuhan oleh BPBD Kabupaten.

“Kita belum tahu apa yang mereka butuhkan. Berdasarkn data BMKG, curah hujan untuk wilayah Malut sangat tinggi dalam 3 pekan  ini, terhitung Juni 2020. Kadi hampir seluruh wilyah Malut terdampak banjir  tergantung struktur landscapenya,” ujarnya.

Ia menyebutkan, yang terjadi banjir di  Sula Kecamatan Mangoli, Kabupaten Taliabu, Halmahera Selatan, dan Kota Ternte, akibat dari sebagian besar wilayah  ilegal loging dan tambang. Meski demikian  belum bisa pastikan dampak masyarakat yang teredam banjir. Sebab, masih menunggu tim menghitung data rumah yang rusak tetapi sesuai data  awal sekitar 100 rumah.

Terpisah, Kepala Desa Waitina, Sirajudin Umasangaji mengungkapkan, tanggul yang dibangun tidak dapat menahan debit air yang terus mengalir karena intensitas hujan yang tinggi.

“Sekitar jam 5 subuh  terjadi hujan deras sehingga pukul 7.30 pagi, kali waigafu meluap ke aliran kali waisenga sehingga banjir disertai lumpur. Menggenangi lingkungan Dusun 1, RT01, RT02, dan RT03,” ungkap kepala desa.

Warga berharap Pemda Kepsul segera melakukan normalisasi sungai tersebut agar tidak terjadi banjir lagi.

“Kita sudah koordinasi dengan pak Bupati kemudian badan penanggulangan bencana daerah dan Dinas PUPR. Kurang lebih ada 102 rumah yang tergenang banjir. Mudah-mudahan sehari dua ada bantuan dari pemerintah daerah dalam hal ini normalisasi kali sehingga di waktu-waktu besok dan seterusnya tidak ada lagi banjir susulan,” harapnya.

Ia menambahkan, kini Pemerintah Desa bersama tim BPBD Kepsul dibantu warga membersihkan rumah yang tergenang air dengan kondisi alat apa adanya.

“Sementara air sudah mulai surut dan Alhamdulillah masing-masing warga yang rumahnya tergenang air sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah mereka,” terangnya. (dmn)

banner

Komentar